Untuk Bantu Pahami Matematika, Anak Perlu Metode Belajar Interaktif
24 Februari 2025

Untuk Bantu Pahami Matematika, Anak Perlu Metode Belajar Interaktif

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) merilis laporan bahwa Indonesia membutuhkan 500.000 talenta digital per tahun untuk menutup kesenjangan sekitar 3 juta talenta digital pada 2030. Namun, banyak anak Indonesia masih menghadapi kesulitan dalam menguasai salah satu fondasi penting dari pendidikan Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM), yaitu Matematika. Berdasarkan survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, kemampuan Matematika siswa Indonesia berada di peringkat ke-75 dari 81 negara, dengan 71 persen siswa tidak mencapai kompetensi minimum. Ketakutan terhadap Matematika sering kali disebabkan oleh kurangnya pemahaman dasar sejak dini dan minimnya metode pembelajaran yang menyenangkan dan efektif, baik di sekolah maupun di rumah. Pendidikan STEM tidak hanya mempersiapkan anak untuk memahami teknologi, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis, logis, dan kreatif. Menurut Taufiq Wisnu selaku COO Algorithmics Indonesia, pendidikan STEM sejak dini akan memberikan fondasi yang kuat bagi anak-anak untuk berkembang di dunia yang semakin digital. “Di Algorithmics, kami menyediakan program-program yang dirancang untuk membangun kemampuan tersebut melalui pendekatan interaktif dan menyenangkan,” ujar Taufiq Wisnu dalam keterangan tertulis, Senin (2/12/2024). Ia menambahkan, Algorithmics hadir dengan kursus Matematika inovatif untuk anak-anak usia 6-7 tahun dan 10-12 tahun. Program ini bertujuan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan akademik di sekolah, sekaligus memperkenalkan pada dasar-dasar Matematika dengan cara yang menyenangkan dan efektif. Ada beberapa keunggulan dari kursus ini, yang pertama yaitu pengembangan keterampilan berpikir. Kursus ini dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir logis, kritis, spasial, dan analitis. Anak-anak diajarkan untuk menyelesaikan masalah kompleks serta soal tingkat olimpiade, mempersiapkan mereka meraih keunggulan dalam kompetisi akademik. Keunggulan kedua yakni metode pembelajaran yang inovatif. Setiap sesi pelajaran dirancang secara menyeluruh untuk menciptakan pengalaman belajar yang menarik dan efektif. Metodenya meliputi warm-up dengan permainan logika yang menstimulus minat belajar, pengenalan topik baru dengan cara yang sederhana dan menarik, serta membuat materi mudah dipahami. Kemudian, latihan interaktif melalui platform digital untuk meningkatkan pemahaman materi. Diikuti dengan revisi materi sebelumnya untuk memperkuat daya ingat, serta diskusi hasil belajar untuk memberikan arahan dan mendukung kemajuan belajar siswa. Selain itu, akses belajar yang fleksibel. Anak-anak memiliki akses 24/7 ke platform online untuk meninjau kembali materi dan mengerjakan latihan tambahan.  

Belajar dari Jepang, Melawan Malnutrisi dengan Menu Bergizi di Sekolah
17 Februari 2025

Belajar dari Jepang, Melawan Malnutrisi dengan Menu Bergizi di Sekolah

Program makan di sekolah sudah diterapkan di banyak negara untuk menanggulangi kelaparan dan juga bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia jangka panjang. Jepang termasuk dalam negara yang jadi pionir dalam program ini, yang dimulai sejak tahun 1889 dan terus mengalami penyempurnaan. Program makan bergizi di sekolah di Jepang dimulai di sebuah sekolah di prefektur Yamagata  yang menyediakan makanan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Menu makan siang saat itu terdiri dari nasi, ikan, dan acar sayuran. Menurut Prof.Naomi Aiba Ph.D, program makan bergizi di sekolah sempat terhenti di masa perang dan dilanjutkan kembali di tahun 1947. Ketika itu UNICEF memberikan bantuan berupa susu untuk meningkatkan status gizi anak. Selang dua tahun kemudian, pemerintah Jepang melembagakan dan membuat undang-undang untuk program ini. "Di tahun 1975 menu makan siang di sekolah kebanyakan berupa roti dan disajikan dengan sendok garpu. Hal ini menimbulkan masalah karena banyak anak jadi tidak bisa pakai sumpit. Setelah itu menunya diubah, kembali ke nasi sebagai makanan pokok, serta sayur mayur. Siswa pun kembali pakai sumpit," kata Naomi dalam acara seminar ilmiah Shokuiku, Nutrisi dan Edukasi, yang diadakan oleh PT.Yakult Indonesia di Jakarta (13/2). Seiring waktu, variasi bahan makanan yang dijadikan makin bertambah dengan lauk-pauk berbagai makanan Jepang menjadi fokus utama.Tidak berhenti hanya menyajikan makanan, pemerintah Jepang pun menjadikan program makan siang di sekolah sebagai bagian dari pendidikan makanan (Shokuiku) yang mengajarkan anak-anak pentingnya pola makan sehat. Secara resmi UU pendidikan pangan pun disahkan di tahun 2005. "Banyak menu makan siang anak yang direvisi, selain itu sekolah juga wajib menyediakan guru ahli gizi. Pendidikan makan di sekolah adalah cara agar anak bisa memperoleh pengetahuan tentang pangan dan mengembangkan sikap positif terhadap makanan," urai Naomi. Di kelas para siswa akan menerima arahan tentang gizi bersama wali kelas. Dengan makan siang bersama di sekolah anak-anak juga dapat mempraktikkan apa yang telah dipelajarinya di kelas. Waktu makan siang dianggap sebagai kegiatan belajar dengan durasi 45 menit, sama seperti mata pelajaran lain. Selama 45 menit, tercakup rangkaian makan siang mulai dari persiapan, makan bersama, serta membereskan peralatan dan sampah setelah makan."Manajemen gizi makan siang sekolah didasarkan pada penelitian 5 tahun sekali, sebagai standarisasi. Guru ahli gizi juga selalu berinovasi. Menu jadi lebih lengkap, yang terdiri dari makanan pokok, makanan lauk pauk, dan sup. Bahan makan yang digunakan berasal dari lokal-tradisional, dan diproduksi di dalam negeri," paparnya. Porsi makan siang di sekolah dirancang sesuai kelompok usia. Murid juga diajarkan untuk menghabiskan makanannya agar mendapatkan energi dan nutrisi yang dibutuhkannya. Berkelanjutan di keluarga Pendidikan pangan tak berhenti di sekolah, tapi sampai ke keluarga. Di Jepang, makan siang di sekolah berlangsung selama 190 hari dalam setahun, sehingga memungkinkan untuk memberikan pembelajaran yang berkelanjutan. "Namun perlu diingat, makan siang hanyalah satu kali makan dalam sehari. Pengalaman dan pengetahuan di sekolah juga perlu dipraktikkan di rumah," tutur Aiba yang juga seorang peneliti di Institut Kesehatan dan Gizi Nasional, Kanagawa Institute Jepang. Sekolah membuat bulletin gizi, serta mengirimkan menu makan siang sekolah selama satu bulan kepada orangtua. "Ini adalah salah satu cara guru berkomunikasi dengan keluarga, untuk membantu anak dan keluarga menjadi lebih sehat," katanya.     https://health.kompas.com/read/25B16103500268/belajar-dari-jepang-melawan-malnutrisi-dengan-menu-bergizi-di-sekolah

Apakah Setiap Manusia Memiliki Siklus Pertumbuhan yang Sama?
6 Februari 2025

Apakah Setiap Manusia Memiliki Siklus Pertumbuhan yang Sama?

Manusia, seperti makhluk hidup lainnya, memiliki siklus pertumbuhan yang mengikuti tahap perkembangan tertentu. Namun, apakah setiap manusia memiliki siklus pertumbuhan yang sama? Jawabannya adalah ya, manusia mengalami siklus pertumbuhan yang sama. Namun, besar pertumbuhan dan perkembangan tiap individu tidak selalu sama. Untuk lebih mengetahuinya, simaklah penjelasan di bawah ini!Siklus pertumbuhan manusia Sebagaimana dilansir dari Lumen Learning, setiap manusia melalui siklus pertumbuhan yang terdiri dari delapan tahap perkembangan sebagai berikut: Perkembangan prenatal Dimulai sejak konsepsi dan terbagi dalam tiga fase yaitu germinal, embrionik, dan janin. Faktor genetik dan lingkungan sangat memengaruhi perkembangan bayi di tahap ini.Masa bayi dan balita Tahun pertama kehidupan adalah periode perubahan cepat, di mana bayi berkembang dari yang hanya bisa merespons secara refleks menjadi balita yang berjalan dan berbicara. Anak usia dini Pada usia 2 hingga 6 tahun, anak mulai mengembangkan kemandirian, belajar bahasa, dan memahami dunia sekitar mereka.Masa kecil pertengahan Usia 6 hingga 11 tahun adalah masa pembelajaran di sekolah. Anak-anak mulai mengasah keterampilan akademik dan sosial, serta mengenali kemampuan mereka melalui perbandingan dengan teman sebaya. Remaja mengalami perubahan fisik pesat, mulai dari pubertas hingga pencarian identitas diri. Perubahan ini bisa berbeda-beda tergantung pada banyak faktor. Dewasa awal Di usia 20-an hingga 30-an, individu mencapai puncak fisik dan menghadapi keputusan besar dalam hidup, seperti memilih karier dan membangun keluarga. Dewasa pertengahan Usia 40 hingga 60-an adalah masa di mana banyak orang mencapai puncak karier, namun juga mulai merenung tentang tujuan hidup dan menghadapi perubahan fisik. Dewasa akhir Masa tua mencakup rentang usia yang luas, dari yang masih aktif dan sehat hingga yang mengalami tantangan kesehatan. Setiap orang menjalani fase ini dengan cara yang sangat berbeda. Manusia Dewasa dan Penjelasannya Faktor yang memengaruhi pertumbuhan manusia Setiap manusia melalui proses pertumbuhan yang unik, meski secara umum mengikuti tahapan yang sama. Proses pertumbuhan manusia sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Berdasarkan penelitian dari Encyclopedia Britannica, pertumbuhan tubuh manusia mirip dengan menenun kain yang tidak memiliki pola yang sama. Setiap bagian tubuh berkembang dengan kecepatan yang berbeda, dan faktor genetik berperan penting dalam menentukan pertumbuhan, terutama pada masa remaja.   

Seluruh Masyarakat RI Bisa Skrining Kesehatan Mental Gratis
3 Februari 2025

Seluruh Masyarakat RI Bisa Skrining Kesehatan Mental Gratis

Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengatakan, seluruh masyarakat Indonesia akan bisa mengakses skrining kesehatan mental secara gratis, yang direncanakan akan berjalan mulai Februari ini. “Ini adalah program terbesar dari Kemenkes, dan juga mungkin salah satu dari pemerintah, karena cakupannya sampai 280 juta (orang). Akan dibicarakan waktu tepatnya, tapi rencananya memang Februari,” kata dia saat ditemui di Jakarta, Minggu (2/2/2025), seperti ditulis Antara. Data survei rumah tangga berskala nasional yang dilakukan oleh Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja (34,9 persen) atau setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.Kemudian, 1 dari 20 remaja (5,5 persen) atau setara dengan 2,45 juta remaja Indonesia memiliki satu gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Dari jumlah tersebut, hanya 2,6 persen remaja dengan masalah kesehatan mental yang pernah mengakses layanan yang menyediakan dukungan atau konseling untuk masalah emosi dan perilaku dalam 12 bulan terakhir. Menkes mengungkapkan, pemerintah telah menyiapkan 10.000 puskesmas dan 15.000 klinik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk membantu memfasilitasi pemeriksaan awal kesehatan mental secara gratis tersebut.Program ini diproyeksi menjadi program pemerintah terbesar yang belum pernah dilakukan sebelumnya, melebihi program vaksinasi Covid-19 gratis beberapa waktu lalu yang cakupannya mencapai sekitar 200 juta jiwa. Pemerintah saat ini tengah menyoroti kasus kesehatan mental yang semakin marak di Tanah Air, terutama pada anak-anak dan remaja. “Data tahun 2023, 1 dari 10 rakyat Indonesia itu punya masalah kesehatan mental atau kesehatan jiwa, dan isunya adalah ini skriningnya tidak pernah dilakukan, jadi mereka sendiri tidak tahu kalau dia punya masalah kesehatan mental. Itu sebabnya program cek kesehatan mental gratis akan kita lakukan bagi seluruh masyarakat terutama anak-anak,” ujar Budi.Menkes menyebut saat ini pihaknya sedang mendiskusikan tanggal resmi dibukanya skrining tersebut dengan Presiden dan juga tiap kepala daerah. “Saya mau menghadap Bapak Presiden dulu, sudah dapet jadwal minggu depan untuk diskusi kapan. Karena ini kan dilakukan di seluruh Indonesia serentak harus koordinasi sama kepala daerah,” tambahnya.

«»

Ikuti update berita terbaru kami di sosial media

Punya pertanyaan?

Hubungi Kami
donate

Kirim donasi untuk mereka yang membutuhkan

Donasi sekarang